Mahasiswa PAI UIN Madura Perdalam Moderasi Beragama Melalui Kunjungan ke Vihara Avalokitesvara
- Diposting Oleh Admin Web Prodi PAI
- Jumat, 5 Desember 2025
- Dilihat 17 Kali
Pamekasan, 05 Desember 2025— Sebanyak 35 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Kelas C Semester 3 UIN Madura melaksanakan kegiatan Perkuliahan Luar Kelas (PLK) untuk mata kuliah Pendidikan Multikultural dan Moderasi Beragama. Dalam agenda kali ini, para mahasiswa mengunjungi Vihara Avalokitesvara yang berlokasi di Dusun Candi, Desa Polagan, Galis, Pamekasan. Kegiatan ini dipandu langsung oleh dosen pengampu, Ibu Muliatul Maghfiroh, M.Pd.I.
Vihara Avalokitesvara dipilih sebagai lokasi studi lapangan karena keunikannya sebagai simbol moderasi di Madura. Di area ini, rumah ibadah dari berbagai agama berdiri berdampingan, mencerminkan nilai-nilai inklusivitas yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah. Kunjungan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang telah lama terjalin harmonis di lingkungan tersebut.
Kunjungan ini memberikan dampak emosional dan intelektual yang mendalam bagi para mahasiswa. Salah satu perwakilan mahasiswa menyatakan bahwa melihat langsung suasana di Vihara Avalokitesvara telah membuka cakrawala baru baginya. "Selama ini kami hanya berdiskusi di dalam kelas mengenai apa itu toleransi. Namun, saat berada di sini dan melihat bagaimana masyarakat sekitar yang mayoritas Muslim tetap menjaga keharmonisan dengan rumah ibadah umat Buddha, saya baru benar-benar paham bahwa moderasi beragama itu nyata dan bisa dipraktikkan," ungkapnya.
Di sela-sela observasi, Ibu Muliatul Maghfiroh, M.Pd.I., memberikan arahan mendalam kepada para mahasiswa di pelataran Vihara. Beliau menekankan bahwa moderasi beragama harus dirasakan melalui interaksi langsung, bukan sekadar dipelajari di dalam kelas.
"Moderasi beragama bukan sekadar materi dalam buku teks yang kalian baca di ruang kelas," tegas beliau di hadapan mahasiswa. "Kalian hadir di sini untuk menyaksikan bagaimana harmoni dirawat secara nyata. Vihara ini adalah bukti otentik bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kita untuk hidup berdampingan secara damai."
Beliau juga menitipkan pesan khusus mengenai peran mahasiswa sebagai calon pendidik agama Islam di masa depan. "Sebagai calon guru PAI, tugas kalian kelak bukan hanya mengajarkan tata cara ibadah secara ritual, tetapi juga menanamkan nilai ukhuwah basyariyah (persaudaraan antarmanusia). Kalian harus menjadi jembatan, bukan tembok. Dengan memahami inklusivitas di sini, saya berharap kalian mampu membawa semangat toleransi ini ke sekolah-sekolah tempat kalian mengabdi nanti," pungkasnya. (AdminPAI)